Minggu, 25 Juni 2023

Review Novel & Film “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas”

             Pertama aku bertemu dengan si Novel, di salah satu rak di Perpus Cikini. Aku tertarik oleh penghargaan dalam sampul novel ini yaitu Prince Clausa Laureate 2018. Walaupun waktu kuliah aku sempat belajar sastra tapi belum terlalu banyak novel yang sempat aku baca tapi jika kalian anak Sastra atau Bahasa Indonesia cobalah untuk membaca ini. Setelah bertemu si Novel dan selesai membacanya, aku mulai mencari si Film yang ternyata membuatku sadar bahwa aku lebih menyukai si Novel tapi si Film juga tidak bisa terlupakan begitu saja karena pembawaan dari para pemainnya yang menurutku sangat epic dan keduanya spesial dengan versinya masing-masing.

           

            Kisah ini berawal dari seorang pemuda bernama Ajo Kawir yang juga seorang jagoan ternyata harus menerima kenyataan bahwa “burung”nya tidak bisa bediri normal seperti laki-laki pada umumnya alias tidak bisa ngaceng. Saat masih kecil Ajo dan sahabatnya, si Tokek mengalami kerjadian yang cukup membuat Ajo trauma sehingga membuat burungnya tertidur pulas bahkan sangat pulas. Berbagai cara telah Ia lakukan untuk membuatnya bangun tapi semua usahanya percuma hingga ia tumbuh dewasa dengan burung yang selalu tidur pulas dalam sangkarnya. Hal itu semakin membuatnya tidak takut pada apapun selain Tuhan sampai dia bertemu Iteung. Seorang gadis jago silat yang mampu membuatnya jatuh cinta.

 

            Tidak hanya Ajo, Iteung-pun jatuh cinta dengan Ajo. Mereka sempat dekat hingga akhirnya Ajo mulai pergi dan menghilang. Ajo minder dengan keadaan burunya. Iteung dengan keberaniannya mendatangi Ajo hingga mereka berkelahi dan Ajo mengungkapkan keadaanya yang sesungguhnya. Di luar dugaan Iteung menerima Ajo bahkan mengajaknya menikah. Pernikahan mereka berjalan lancar walaupun tanpa burung yang bangun hingga suatu hari Iteung hamil. Ajo pergi saat itu juga tanpa mau bertemu dengan Iteung lagi.

 

            Ajo yang saat itu dalam keadaan marah akhirnya membunuh seorang preman jahat dan Ia masuk penjara. Ajo menghabiskan seluruh amarahnya dalam penjara tapi di sisi lain Iteung setelah melahirkan bayinya mulai melakukan pembalasan untuk suaminya. Dendam harus dibayar tuntas. Setelah keluar dari penjara Ajo berubah menjadi orang yang lebih baik dan lebih bijaksana. Suatu hari ia bertemu seorang wanita buruk rupa dan keajaibanpun terjadi atas izin Tuhan. Burung yang selama bertahun-tahun tidur pulas tiba-tiba bangun dengan indahnya. Ajo akhirnya memutuskan untuk pulang dan menata hidupnya kembali dengan Iteung.

 

            Di sisi lain dengan pelan tapi pasti Iteung membalas satu-persatu dendam suaminya dengan tuntas dan setelah semuanya selesai dia kembali pulang. Di rumah Iteung kaget karena melihat suaminya akhirnya pulang dan mereka berpelukan melepas kerinduan selama bertahun-tahun lamanya hingga sebuah mobil polisi tiba untuk membawa Iteung menuju penjara.

 

            Kurang lebih cerita novel dan filmnya seperti itu, baik novel ataupun film mempunya garis cerita yang sama tapi dengan versi berbeda. Novel menceritakan dengan lebih santai dan detail sedangkan film terasa lebih dipercepat, mungkin karena durasi. Untuk novel aku meberikan nilai 90/100, walaupun vulgar novel ini menyenangkan untuk dibaca dan menyampaikan pesan moral dengan caranya sendiri. Untuk film aku memberikan nilai 80/100 karena sejujurnya untukku yang sudah membaca novelnya ini sangat dicepat tapi aku sangat salut dengan seluruh pemainnya dan pembawaan film ini yang cukup memuaskan visualisasiku walaupun tidak sepenuhnya seperti gambaran imajinasiku tapi sungguh filmnya sangat bagus untuk ditonton.

 

Oia baik membaca atau menonton ini tolong pastikan sudah cukup umur paling tidak  17 tahun ke atas, ya karena selain vulgar, ini juga banyak membawakan pembahasan dewasa yang lebih dapat dipahami oleh orang-orang yang sudah cukup dewasa dan terima kasih sudah membaca review ini.

New Post

  Menurutuku ini adalah satu buku yang harus kalian baca setidaknya sekali dalam hidup karena kalian akan merasakan betapa beruntungnya “k...