Kisah
ini berawal dari seorang pemuda bernama Ajo Kawir yang juga seorang jagoan ternyata
harus menerima kenyataan bahwa “burung”nya tidak bisa bediri normal seperti
laki-laki pada umumnya alias tidak bisa ngaceng. Saat masih kecil Ajo
dan sahabatnya, si Tokek mengalami kerjadian yang cukup membuat Ajo trauma sehingga
membuat burungnya tertidur pulas bahkan sangat pulas. Berbagai cara telah Ia
lakukan untuk membuatnya bangun tapi semua usahanya percuma hingga ia tumbuh
dewasa dengan burung yang selalu tidur pulas dalam sangkarnya. Hal itu semakin
membuatnya tidak takut pada apapun selain Tuhan sampai dia bertemu Iteung. Seorang
gadis jago silat yang mampu membuatnya jatuh cinta.
Tidak
hanya Ajo, Iteung-pun jatuh cinta dengan Ajo. Mereka sempat dekat hingga akhirnya
Ajo mulai pergi dan menghilang. Ajo minder dengan keadaan burunya. Iteung dengan
keberaniannya mendatangi Ajo hingga mereka berkelahi dan Ajo mengungkapkan
keadaanya yang sesungguhnya. Di luar dugaan Iteung menerima Ajo bahkan
mengajaknya menikah. Pernikahan mereka berjalan lancar walaupun tanpa burung
yang bangun hingga suatu hari Iteung hamil. Ajo pergi saat itu juga tanpa mau
bertemu dengan Iteung lagi.
Ajo
yang saat itu dalam keadaan marah akhirnya membunuh seorang preman jahat dan Ia
masuk penjara. Ajo menghabiskan seluruh amarahnya dalam penjara tapi di sisi
lain Iteung setelah melahirkan bayinya mulai melakukan pembalasan untuk
suaminya. Dendam harus dibayar tuntas. Setelah keluar dari penjara Ajo berubah
menjadi orang yang lebih baik dan lebih bijaksana. Suatu hari ia bertemu
seorang wanita buruk rupa dan keajaibanpun terjadi atas izin Tuhan. Burung yang
selama bertahun-tahun tidur pulas tiba-tiba bangun dengan indahnya. Ajo
akhirnya memutuskan untuk pulang dan menata hidupnya kembali dengan Iteung.
Di
sisi lain dengan pelan tapi pasti Iteung membalas satu-persatu dendam suaminya
dengan tuntas dan setelah semuanya selesai dia kembali pulang. Di rumah Iteung
kaget karena melihat suaminya akhirnya pulang dan mereka berpelukan melepas kerinduan
selama bertahun-tahun lamanya hingga sebuah mobil polisi tiba untuk membawa
Iteung menuju penjara.
Kurang
lebih cerita novel dan filmnya seperti itu, baik novel ataupun film mempunya garis
cerita yang sama tapi dengan versi berbeda. Novel menceritakan dengan lebih
santai dan detail sedangkan film terasa lebih dipercepat, mungkin karena durasi.
Untuk novel aku meberikan nilai 90/100, walaupun vulgar novel ini menyenangkan
untuk dibaca dan menyampaikan pesan moral dengan caranya sendiri. Untuk film
aku memberikan nilai 80/100 karena sejujurnya untukku yang sudah membaca
novelnya ini sangat dicepat tapi aku sangat salut dengan seluruh pemainnya dan pembawaan
film ini yang cukup memuaskan visualisasiku walaupun tidak sepenuhnya seperti gambaran
imajinasiku tapi sungguh filmnya sangat bagus untuk ditonton.
Oia baik membaca atau
menonton ini tolong pastikan sudah cukup umur paling tidak 17 tahun ke atas, ya karena selain vulgar, ini
juga banyak membawakan pembahasan dewasa yang lebih dapat dipahami oleh
orang-orang yang sudah cukup dewasa dan terima kasih sudah membaca review ini.